white horse

Kamis, 02 Oktober 2014

New Zealand, Where Pictures Become True

Selandia Baru dengan alamnya yang berwarna-warni, benar-benar memuaskan hobi traveling dan fotografi pecintanya. Sejak menyaksikan keindahan alam Selandia Baru dalam film The Lord of the Rings, negara ini menjadi salah satu negara yang patut dikunjungi. Negara yang terkenal akan buah Kiwi ini memiliki rumah-rumah mini hobbit di tengah padang rumput yang hijau yang sangat indah, gunung-gunung diselimuti salju, serta danau biru luas membentang.

Menjelang Musim Semi
 Pertengahan September, di Selandia Baru merupakan masa peralihan dari musim dingin ke musim semi, dengan temperatur berkisar 10-15 derajat Celsius. Sebagian pohon mulai bersemi, begitu pula rumput-rumput hijau yang dihiasi bunga-bunga kecil. Beberapa orang berlari-lari kecil sambil membawa anjing. Rumah-rumah tertata dengan rapi di sepanjang jalan, masing-masing dilengkapi kebun yang luas.

Christchurch merupakan kota kedua terbesar di Selandia Baru sesudah Auckland. Kota ini terkenal karena kebun-kebunnya yang indah, bangunan-bangunan tua, dan Sungai Avon yang berliku-liku melewati pusat kota. Tidak mengherankan, Christchurch dikenal dengan sebutan The Garden City.

Setiap sore, warga setempat ramai berkumpul di lapangan Catedral Square untuk bersantai. Banyak di antara mereka yang sedang duduk-duduk sambil mengobrol, ada yang bermain catur raksasa yang tersedia di lapangan tersebut, dan sebagian lagi menyaksikan atraksi menarik yang ditampilkan pemusik jalanan. Segerombol burung camar dengan tenang bermain di lapangan dan bercanda riang dengan anak-anak kecil yang memberi remah-remah roti.

Ada tiga sarana transportasi yang tersedia di sana, yakni tram, punting, dan gondola. Tram adalah kereta api mini berdesain unik, salah satu pilihan terbaik untuk membawa turis mengelilingi Christchurch yang mungil. Sedangkan punting merupakan perahu kecil yang dapat membawa kita menyusuri Sungai Avon yang tenang. Menyaksikan induk dan anak-anak bebek bercanda dengan riang di sungai, sungguh menyenangkan. Kami juga menikmati Christchurch dari ketinggian dengan naik gondola. Seru!




Patung Friday di Mackenzie Country
Mount Cook adalah salah satu objek yang wajib dikunjungi. Dikenal juga dengan nama Aoraki, kawasan pegunungan yang puncaknya tertutup salju abadi. Tempat ini menawarkan beragam aktivitas outdoor mengeksplorasi gletser, seperti trekking, tur dengan perahu atau kayak. Namun sayang sekali, begitu kami tiba di Mount Cook, hujan turun dan langit berkabut. Kami hanya dapat memandangi puncaknya dari kejauhan. Akhirnya kami hanya mengunjungi Sir Edmund Hillary Alpine Centre untuk makan siang dan melihat pertunjukan Mount Cook Magic dalam layar 3D. Film berdurasi 15 menit ini menggambarkan legenda Maori tentang peristiwa alam terbentuknya Aoraki, dan mengiringi ekspedisi seorang pendaki menaklukkan Pegunungan Southern Alps.

Disana terdapat sebuah danau yang pemandangannya begitu menawan yaitu Danau Tekapo. Disana terdapat sebuah gereja dibangun tahun 1935, sebagai penghormatan untuk para perintis yang tinggal di kawasan itu, Church of the Good Shepherd. Gereja ini terletak persis di tepi  danau dan jauh dari permukiman penduduk. Dari dalam jendela gereja, saya terpukau menyaksikan pemandangan mengagumkan danau biru kehijauan dan gunung berselimut salju dihiasi langit biru bersih. Benar-benar mirip lukisan dalam bingkai jendela.

Hanya beberapa meter dari gereja, terdapat patung anjing Collie yang terbuat dari tembaga. Patung ini dibuat sebagai penghargaan terhadap Friday, anjing milik James Mackenzie, seorang pencuri ulung yang pada tahun 1855 ‘menculik’ 1.000 domba. Hanya dengan bantuan Friday, James berhasil menjalankan aksinya, menggiring seribuan domba ke kawasan tersebut. Anehnya, karena kisah pencurian yang menghebohkan itu, daerah Mount Cook dan sekitarnya sampai saat ini dikenal dengan sebutan Mackenzie Country.
Kawasan ini terkenal dengan langit yang bersih dan bebas polusi. Malam hari, tengadah ke langit, saya dapat menyaksikan ribuan bintang selatan. Pada waktu-waktu tertentu, konon di sini kita juga dapat melihat fenomena alam seperti aurora dan hujan meteor. Jika ingin melihat lebih jelas, kita dapat menggunakan teleskop di Mount John Observatory.




The Lord of the Rings di Danau Wanaka
Sebagai pintu masuk ke Mount Aspiring National Park, Kota Wanaka terkenal karena aktivitas outdoor-nya, seperti hiking, mountain biking, rafting, kayaking, dan memancing. Danaunya yang luas berwarna biru dan airnya tenang, dikelilingi perbukitan berwarna putih dan kebiru-biruan, bunga-bunga sakura berwarna pink, pohon berdaun kuning dan hamparan rumput hijau sejauh mata memandang, tanpa populasi manusia, membuat kami merasa berada di negeri antah berantah. Di sekitar Danau Wanaka ini, kami dapat menyaksikan latar belakang saat Gandalf terbang menuju Rohan dengan Gwaihir dalam film The Lord of the Rings.

Menembus Jalanan Bersalju
Dalam perjalanan, pengunjung akan melewati Lake Hawea dan kembali disuguhi pemandangan menakjubkan.  Gunung diselimuti es dengan latar belakang langit biru, danau, dan daun-daun pepohonan penuh warna.


Mendaki Gletser
Franz Josef Glacier (FJG) yang terletak di West Coast adalah gletser yang paling spektakuler di Selandia Baru. Lekukan bongkahan es yang terbentuk dari hasil akumulasi endapan salju yang membatu selama ratusan tahun, menghasilkan masterpiece alam yang luar biasa menakjubkan. Dengan panjang 12 km, dari kejauhan FJG tampak seperti luapan gelombang air sungai berwarna putih.

Cuaca berganti sangat cepat dan tidak terprediksi di West Coast. Pada awal pendakian, matahari bersinar terang. Namun, tidak lama sesudah berada di atas, hujan mulai turun.  Jika beruntung, wisatawan dapat mengamati pergerakan perubahan gletser yang rutin terjadi setiap periode tertentu.

Glow Worm Cave
 Anda dapat melihat cantiknya kerlap-kerlip cahaya di gua Waitomo yang terletak tepat di luar kota Waitomo di North Island Selandia Baru.

Cahaya kerlap-kerlip yang cantik nan indah yang dapat dilihat dalam gua tersebut berasal dari cacing-cacing bercahaya yang hidup di gua dan memiliki populasi yang cukup besar.
Sementara itu, cacing bercahaya atau Arachnocampa luminosa adalah mahluk kecil, yang menghasilkan cahaya biru-hijau dan ditemukan secara eksklusif di Selandia Baru.

Gua-gua Waitomo pertama kali dieksplorasi pada tahun 1887 oleh kepala suku Maori lokal, Tane Tinorau didampingi oleh surveyor Inggris Fred Mace.
Penduduk Maori lokal mengetahui keberadaan gua-gua tersebut, tapi gua-gua bawah tanah ini tidak pernah secara luas dieksplorasi sampai Fred dan Tane pergi untuk menyelidiki. Mereka pun kemudian membangun rakit batang dan rami dan dengan lilin di tangan, menelusuri gua yang dialiri oleh sungai bawah tanah.
Ketika mereka memasuki gua, mereka kagum dengan cahaya cacing-cacing di langit-langit gua yang berkelap-kelip. Saat mereka melakukan perjalanan lebih jauh ke dalam gua mereka juga takjub oleh formasi batu kapur di dalam gua.

Gembira pada penemuan mereka, mereka kembali berkali-kali untuk menjelajahi lebih lanjut dan saat Tane kembali sendirian kesana, dia menemukan menemukan pintu masuk ke gua yang lebih mudah diakses, dan yang sekarang tetap menjadi pintu masuk gua saat ini.
Pada 1889 Tane Tinorau telah membuka gua untuk para wisatawan. Tane Tinorau dan istrinya Huti, memandu para wisatawan dengan bayaran yang murah. Pada tahun 1906 administrasi gua diambil alih oleh pemerintah.
Lebih lanjut, saat ini Tane Tinorau dan Fred Mace menerima persentase dari pendapatan gua dan terlibat dalam pengelolaan dan pengembangan gua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar